Header Ads

RIO HERMAWAN, ANAK PENJUAL ES YANG KINI KULIAH DI UGM

Berita ini sepenuhnya kita kutip dari medcom.id 

Berangkat dari semangat berjualan es dung-dung ayahnya, Rio Hermawan menjadi seorang anak yang tak ingin menyerah dengan keadaan. Ia bertekad melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pria berusia 17 tahun ini percaya pendidikan bisa jadi pemutus rantai kemiskinan. Makanya, dia tekun belajar agar bisa mendapat beasiswa di perguruan tinggi.
 
Rio tak ingin menjadi beban keluarga atas keinginannya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Jalur beasiswa jadi satu-satunya kesempatan mewujudkan cita-cita Rio melanjutkan pendidikan. Selama SMA, ia bertekad bisa terus berprestasi demi memuluskan niatannya itu. Makanya, ia selalu berupaya masuk peringkat 10 besar di kelas.

 
Kecintaannya pada ilmu bumi mengantarkan Rio mengikuti berbagai perlombaan dan meraih prestasi. Salah satunya, dia pernah meraih juara dua olimpiade sains nasional tingkat kabupaten. 

"Sempat lolos tingkat provinsi tapi tidak lolos ke nasional," ungkapnya.

Kegigihan Rio merupakan hasil didikan dari sang ibu, Masikah, dan ayahnya yang berjualan es dung-dung, Encep Cepi. Rio memang sudah diajarkan mandiri sejak belia.

"Setiap hari terbiasa membantu ibu buat bahan es dung-dung. Dari kecil sudah diajari untuk mandiri," terang Rio.
 
Dia mengaku banyak mencontoh kerja keras sang ayah. Dia bercerita, jika upaya ayahnya berjualan es dung-dung demi menafkahi keluarga telah memupuk semangatnya agar bisa meraih pendidikan secara mandiri pula.

Awalnya, keluarga Rio tinggal di Jawa. Namun, ayahnya memutuskan mencari peruntungan di Abepura, Papua. Keluarga ini merantau ke Papua pada 2005. Sebelum menjadi penjual es dung-dung, Encep sempat menjadi penjual sayur di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta.
 
Di Abepura, pria 47 tahun itu berjualan es puter atau lebih dikenal dengan nama es dung-dung. Setiap harinya, Encep berjalan kaki puluhan kilometer sembari mendorong gerobak menyusuri gang-gang di sekitar pinggiran Kota Abepura.
 
Encep bisa mengumpulkan uang Rp200-300 ribu per hari hasil berjualan. Namun, bila dipotong modal, Encep mengantongi untung Rp120-150 ribu per hari.

"Itu pun jika hari tidak hujan, kalau hujan saya tidak jualan,” ujar Encep.
 
Encep menolak menggunakan sepeda motor menjajakan es dung-dung. Menurutnya, dengan berjalan kaki, bisa lebih banyak menemui pelanggan. Encep mencari nafkah mulai dari pukul 10.00 hingga 16.00. Harapan hidup keluarga Encep ada pada setiap potong es dung-dung yang dihargai Rp2 ribu.

Kerja keras Encep tak sia-sia. Anaknya, Rio, lulus dari SMAN 4 Jayapura dan berhasil meraih beasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui melalui jalur KIP Kuliah. Sudah barang tentu, Encep senang bukan kepalang. Sebab, beban untuk membiayai pendidikan sang anak sudah berkurang.

"Buat saya pribadi sangat senang dan bangga, apa yang diinginkannya (Rio) tercapai sudah,” kata Encep.

 
Rio tak bisa menyembunyikan rasa syukur ketika mengetahui dia diterima kuliah di Departemen Teknik Geologi UGM. Kecintaannya pada ilmu kebumian saat SMA berbuah manis. Beasiswa pendidikan di UGM ini menjadi modal awal Rio untuk bangkit dari keadaan keluarganya saat ini. Rio bermimipi, suatu saat nanti, selepas dari UGM, bisa bekerja di perusahaan migas.
 
"Setidaknya jalan terbuka lebar. Mendapat kesempatan ini, senang pastinya karena UGM itu kampus impian banyak siswa," ungkap Rio.

Kirimkan cerita perjuangan kalian meraih  KIP Kuliah ke email dibidikmisicom@gmail.com

______________________


Jangan lupa follow Instagram @sahabat.kipkuliah
Subscribe youtube dibidikmisicom

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.