Header Ads

Kisah Herayati, Alumni Bidikmisi yang Lulus S2 Hanya Dalam 10 Bulan


Beberapa orang mungkin masih ingat, tahun lalu media sempat ramai dengan sosok Herayati, anak tukang becak yang berprestasi.

Hera, begitu gadis cantik tersebut akrab disapa, bukan datang dari keluarga kaya raya.
Ayahnya, Sawiri, adalah seorang tukang becak dengan penghasilan Rp 12 - 15 ribu per harinya.

Jangankan untuk menguliahkan, membiayai kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup.

Namun datang dari keluarga yang terbatas dalam ekonomi tak membuatnya putus asa untuk menempuh pendidikan tinggi.

Mengutip dari Tribun Jabar, Hera sudah memiliki target untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak masih duduk di bangku SMP.

"Saya masuk ITB tahun 2014. Awalnya diceritakan sama guru SMP yang alumnus ITB dan beliau ternyata dapat beasiswa full. Dari situ Hera pengen kuliah tapi dapat beasiswa full," jelas Hera.

Hera juga mengaku ia tertarik dengan mendalami bidang ilmu kimia dan hanya terpikir untuk mendapat pendidikan tersebut di ITB.

"Nah yang Hera tahu cuma ITB doang. Yang di pikiran cuma ITB dan ITB. Selain itu, Hera juga suka sama kimia pas SMA. Dan jurusan kimia terbaik di Indonesia memang ada di ITB," kenangnya.

Meski begitu, keinginannya untuk kuliah sempat membuat orangtuanya, Sawiri (67) dan Duran (63) merasa khawatir.

Beruntung, tetangganya berhasil meyakinkan kedua orang tua Hera untuk menguliahkannya.

"Orangtua dibilang sama tetangga, 'Sudah Pak, Hera mah dikuliahin saja'. Nah pas Hera bilang mau ke ITB, orang tua sebenarnya khawatir tapi enggak pernah bilang 'jangan', jadi mungkin khawatirnya dipendam."

Hera juga menambahkan orangtuanya bahkan mengatakan padanya untuk tak memikirkan biaya, yang penting Hera berusaha agar bisa masuk kuliah dulu.

Berkat keyakinan dan usaha, Herayati berhasil masuk di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Indonesia tersebut.

Dara tersebut bahkan langganan penghargaan Dean'st List enam kali berturut-turut, seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Dean'st List sendiri merupakan penghargaan dari Dekan FMIPA karena prestasi akademik yang baik dengan nilai rata-rata selalu di atas 3,5.

Hera berhasil lulus predikat cum laude dengan IPK 3,77 dari ITB.

Selain itu, ia juga mengikuti program magister melalui program jalur cepat S1-S2 (fast track).

Mengutip dari Grid.id, gadis kelahiran 17 April 1997 itu bahkan sukses lulus S2 hanya dalam waktu 10 bulan dengan IPK 3,8.

Kini kabarnya Hera mulai akan menjadi dosen pada September 2019 mendatang.
Mengutip dari Kompas.com, sebetulnya Hera sudah diminta menjadi dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten setelah lulus S1.

"2018 lalu saya diminta datang ke Untirta, tapi saat itu saya baru lulus S1, sementara jadi dosen minimal S2," kata Hera.
Hal ini tentu saja membuat Hera senang, menjadi dosen adalah cita-citanya sejak kecil.
Hera kemudian mengisahkan setelah lulus S2, pihak Untirta kembali menghubungi Hera untuk menjadi dosen luar biasa di Jurusan Teknik.

"Maunya jadi dosen tetap, tapi harus PNS, sambil menunggu penerimaan, jadi dosen luar biasa dulu sementara di teknik untuk kimia dasar, mulai mengajar bulan September ini," ungkap Hera.

Hera mengatakan keberhasilannya itu tak lepas dari usaha dan dukungan orangtuanya.
"Walaupun tidak punya, Bapak dan Mamah tidak pernah melarang, walaupun diam, tidak pernah bilang jangan, selalu mendukung, walaupun tidak lewat materi, tapi doanya luar biasa," ucap Hera.

Source : Intisari.grid.id

1 komentar:

  1. Min, kalo S2 bidikmisi ada gak yah?
    Kalo ada, bisakah saya ikut sedangkan s1 saya gak terdaftar dalam bidikmisi?

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.