Header Ads

Percakapan Kamar Redaksi Jilid Ke-2


Rek, masih ingat nggak dengan percakapan kamar redaksi sebelumnya ?

Yah.... Nggak ingat ya. Okelah, nggak apa-apa.

Nah, ini sequelnya. Bagian kedua alias kelanjutan dari tulisan beberapa bulan lalu itu.

Sudah agak lama sih. Tapi memang kolom curhatan redaksi agaknya perlu ada. Lagi dan lagi. Biar para pembaca bisa tahu apa sih yang sedang kami kerjakan sebenarnya.

Tentunya sesuai konteks narasi dan dimulainyanya tulisan ini, tidak lain ialah karena ambang perpecahan yang bisa dibilang tak penting-penting amat juga untuk dimuat.

Dan dengan bahagia, kami kabarkan. Dua orang di tim kita, Cik plus Cak, konon kabarnya udah mau naik ke pelaminan. Di sambung dengan kabar bahagia dari Opa kita yang udah move on dari zona gelandangan ke zona nyamannya di tanah seberang pulau.

Yah emang sih, semua masih belum keluar sejengkalpun dari bumi Nusantara tercinta, INDONESIA RAYA. Jadi belum berjarak serius. Walau ada yang di Jakarta, ada di Surabaya, Malang dan sebagainya, semua masih 0 km dari Indonesia.

Okelah, simak langsung percakapannya aja nih. Semoga seru.

Cik Ma : “Lumayan kan, udah ada yang ngeshare tulisan kita-kita ini, lho.”

Wak Jo : “Wislah, pokok mlaku ndisik…”

Cik Ma : “Iya. Dari pada nggak sama sekali. Iya kan Wak ?”

Om Jay : “Istilahnya ‘babat alas’, ya apapun kendalanya kudu di lalui. Ojok nyerahan.”

Tante Ina : “Aku ini kog pesimis ya. Wong yang kita kerjakan ini nggak jelas blas eg.”

Wak Jo : “Kalau jelas-mah, bukan kita-kita kali yang ngerjakan. Tante-tante...”

Cik Ma : “Iya. Kita ini kan orang yang nggak punya kejelasan. Jadi kalau kerjaannya nggak jelas-jelas amat. Itu udah kebilang lumayanlah.”

Mat Kar : “Nganti kapan gaweyan tanpa tujuan iki kita pertahankan ?”

Om Jay : “Lha kalau nggak guna ya bubarkan secepatnya aja, wis. Gitu aja kog repot baget sih.”

Mat Kar : “Ngomong-ngomong, kita nulis percakapan iki gae nyapo to ?”

Tante Ina : “Maksute ?”

Wak Jo : “Ya… biar dapet relawan kek. Biar tema “Bidikmisi”-nya bisa lebih ngejleb, kali.”

Om Jay : “Ngejleb yang gimana ?”

Wak Jo : “Nggak tau…”

Mat Kar : “Tuh kan, zonkkkk….”

Cik Ma : “Udahlah tak usah serius sekali. Enjoy, nikmati aja. Entar kalau kita serius beneran, nanti malah dikira fiksi, kayak telenovela.”

Mat Kar : “Gak nyambung… Buyar-buyar.”

Om Jay : “Sek, sek ta..la !”

Tante Ina : “Sek apa maneh ?”

Om Jay : “Re-planing aja yuk. Rebound. Buat cerpen kek. Novel atau apalah. Kumpulan essay yang bagus tentang Bidikmisi.”

Cik Ma : “Gae apa ? Terus sapa sing nggarap. Ngimpi kuwi ojok keduwuren tala. Mundak ruwet nek ceblok ki.”

Mat Kar : “Eh, ojok ngono. Barangkali nek diusahakne, iso kelakon lho ya.”

Cik Ma : “Iya, isok kog. Isok banget, tapi ngenteni 2045. Iya kan ?”

Wak Jo : “Iyo, selak do nduwe anak kabeh iku lak an.”

Mat Kar : “Ya wislah, njaring audiens ae sing akeh. Barangkali kalau web kita rame. Kita bisa move kesana.”

Wak Jo : “Iyo. Bener kuwi. Realistis. Dan semoga nggak ada rasa bosen diantara kita. Ngrintis sesuatu sing gak jelas dan gak punya target apa-apa.”

Cik Ma : “Iyo, nek iso kuat terus ? Kalau retak dimakan waktu semangete terus piye ?”

Entahlah. Pasrahkan pada yang memberi petunjuk saja. Gitu aja kog repot.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.