Header Ads

Catatan Entrepreneur, Mahasiswa Bidikmisi FPK Unair




Perkenalkan nama saya Ghufron, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan. Saat ini, saya sibuk menjalankan usaha dan mencoba memperjuangkan skripsi yang tertunda. Sedikit bercerita tentang kehidupan pribadi. Saya merupakan anak pertama dari 3 bersaudara yang cinta dengan pramuka.

Boleh dibilang, saya lulus SMA dengan nilai yang sangat pas-pasan. Karena ketika kelas 3 SMA saya juga nyambi bekerja menjadi sales susu kambing, join MLM dan pemulung botol bekas.

Saat itu, hanya ada dua jurusan yang saya fikirkan. Pertama, perikanan. Kenapa ? Saya ingin setelah lulus dari jurusan itu dapat memiliki kolam ikan yang banyak. Sedangkan bayangan yang kedua ialah di peternakan. Jadi peternak yang punya banyak sapi dan banyak kambing.

Singkat crita, hasil SBMPTN keluar, dan saya bersyukur diterima di Unair mendapatkan beasiswa Bidikmisi.

Dan cus, kehidupan kuliahpun saya lalui hingga sekarang.

Saya termasuk tipe orang yang aktif organisasi sekaligus mulai mencoba berwirausaha mandiri. Hal itu saya lakukan karena saya adalah orang yang terlalu gengsi kalau harus meminta uang dari orang tua. Saya harus mandiri dan bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adik saya. Maka jangan heran, sejak semester 2 sampai kini, saya tidak pernah sedikitpun minta uang saku ke orang tua.

Nasib baik ternyata datang. Pada semester 3 saya diterima di Beasiswa Entrepreneur dari Mien R Uno Foundation. Beasiswa ini megajarkan saya bagaimana menjalankan usaha dengan baik. Sekaligus memang di beasiswa ini semua pesertanya dituntut untuk memiliki usaha. Dan saat itu usaha yang saya jalankan ialah di bidang konveksi. Dari nol, usaha ini saya lakukan dari tanpa modal hingga mendapatkan keuntungan lebih dari 37 juta dengan memanfaatkan status saya sebagai mahasiswa.

Namun sampai disini saya sadar bahwa saya terlalu berorientasi pada uang hingga mengesampingkan kuliah dan ibadah. Padahal harusnya bisnis itu tidak boleh hanya berorientasi pada untung saja, tapi juga bagaimana dengan bisnis itu, kita bisa mensejahterakan banyak orang, termasuk keluarga kita dan makin dekat dengan Sang Pencipta.

Ada satu pengalaman yang kemudian membawa saya untuk kembali. Pernah, dalam satu bulan saya habiskan uang 12 juta untuk bersenang-senang. Termasuk untuk membeli handphone dengan harga 6,5 juta. Namun, seperti ditegur, 3 minggu setelahnya, barang mewah itu hilang.

Akhirnya karena sepertinya kurang barokah. Usaha konveksi itupun saya sudahi, dan saya mulai merintis usaha budidaya ikan lele di Bojonegoro. Awalnya dari 3 kolam, hingga saat ini mencapai 23 kolam ditambah dengan 37 warga binaan.

Saat ini Alhamdulillah sudah berbadan hukum dengan nama CV. Mina Sejahtera. Dan disinilah saya menemukan kepuasan batin dalam hidup saya. Saya ingin menjadikan Desa saya menjadi sentra budidaya ikan lele dari hulu sampai hilir yang ada di Bojonegoro.

Tak sampai disini, saya juga mulai merambah di beberapa bisnis distributor beras, peternakan sapi, kuliner sampai ke jasa cleaning service Surabaya. Saya ingin lebih banyak orang yang terlibat dan terbantu dengan apa yang saya lakukan. Dan semuanya bisa dilakukan dengan tekad dan kerja keras. Mari berproses untuk terus menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk banyak orang. [ * ]

Itulah cerita saya,
Aminuddin Ghufron A. M (Bidikmisi FPK Unair 2013)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.