Header Ads

#Ngopi (Ngobrol Pening) Seputar Kerjaan (1)


Narasumber kita kali ini ialah jebolan seleksi CPNS 2017 lalu. Teman saya ini namanya Reza Bakhtiar. Mumpung masih anget juga soal wacana CPNS 2018. Yuk simak obrolan santai kami yang akan disajikan dalam beberapa bagian ini.

Bagian pertama, tak asyik kalo nggak ngulak-ngulik soal pengalaman pribadi, gimana cari kerja itu sebenarnya. Gampangkah ? Susahkah ? Ikuti saja uraian berikut ini.

***

Menjadi seorang pegawai negara, pegawai negeri sipil. Itu adalah idaman dari banyak orang. Bagaimana cerita perjuangan diri anda, hingga sampai pada posisi yang mungkin diinginkan mayoritas lulusan perguruan Tinggi di negeri ini?

Jawab :

Saya jadi tidak enak, karena kayaknya wawancaranya jadi formal begini.


Kayaknya hidup saya ini terasa banyak kebetulannya. Tapi, jika dibilang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini adalah kebetulan, sepertinya tidak. Meskipun sejujurnya saya tidak pernah berfikiran untuk menjadi PNS sebelumnya. “Jangankan memikirkan, terbersit keinginan pun sebenarnya tidak.” Mungkin terdorong spontanitas situasi.

Wow, apa yang ada dalam rencana hidup anda sesungguhnya ?

Jawab :

Saya ini pengennya jadi pengusaha, ya wirausahawanlah. Ya, meskipun menjadi seorang wirausahawan juga tidak mudah. Kalo sekedar jadi tukang jual roti, pasti—embel-embel Sarjana ini jadi penghalangnya. Gengsi, bro !

Berfikir jadi wirausahawan itu, banyak hal yang harus dipersiapkan dan dipertimbangkan untuk ini. Harus punya bekal softskill alias kemauan keras yang kuat dan yang nggak kalah pentingya ialah modal. Fresh money.

Untuk itulah kemudian saya berfikiran bahwa saya harus merangkak dulu, “nglumpukne modal disek”.

“Saya harus jadi pegawai swasta dulu.” Begitu pikiran saya. Dan saya kira ini pikiran atau pandangan mainstream masyarakat.

Jadi, aslinya. Anda itu pengennya ke swasta dulu sebagai staf sebuah perusahaan ?

Jawab :

Tepat sekali. Bahkan saya udah mulai mengawali peruntungan, ‘apply’ di banyak perusahaan itu sejak pertengahan tahun 2015, meskipun saat itu saya masih berstatus mahasiswa semester 7.

Visioner sekali ?

Jawab :

Jangan dipuji dulu. Saya kan belum selesai ceritanya.

Apply itu selain karena cita-cita, juga karena faktor kebutuhan. Anda kan juga tahu to, saya ini mahasiswa Bidikmisi dulunya. Ya, kalau pengen cari tambahan serabutan. Itukan wajar. Kuliah aja nunut, masak pengennya begitu terus. Maka saya mendorong diri saya untuk mandiri, agar tidak punya ketergantungan akut sama suapan beasiswa.

Saya emoh, kalau jadi manja gara-gara beasiswa.

Dan beginilah, saya inikan tipe orang yang takut nyusahin orang tua. Jadi sedini mungkin saya berpikiran kalau segera kerja maka akan semakin baik.

Saya ndak mau to berpangku tangan, apalagi jadi lulusan mbambung, terus jadi beban orang tua. Wis angel-angel kuliah, kog nganggur. Isin. Pantang bagi saya.

Apakah akhirnya anda dengan pengalaman ini dan itu mengakui bahwa sekolah lama-lama ternyata ujungnya untuk cari kerja?

Jawab :

Ah, ya ndak boleh gitulah.

Kita di kuliah, di Universitas dulu itu diajari idealis, diajari pula realistis, bahkan perlu juga pragmatis atau pesimis. Semua tidak padat, kan kadang harus cair, kadang juga harus menguap juga.

Kita kuliah ya jelasnya untuk cari ilmu. Ilmu kita dapatkan bukan untuk cari kerja yang utama. Bukan barter ijazah dengan pekerjaan. Tapi yang substansial, saya kuliah lama ini saya ikhtiarkan untuk orang tua. Saya kuliah gini, orang tua senang. Apa lagi sekarang jadi PNS. Wah senangnya bukan main. Se-RT, se-Kelurahan kecipratan kabarnya. Jadi siapa yang seneng ? Bapak Ibu kan.

Lha ini prinsip yang harus dipegang.

Dengar-dengar sebelum tembus PNS ini. Anda juga sempat merasakan sandera susahnya cari kerja. Gimana rasanya ?

Jawab :

Iya, saya sadari itu sebagai pengalaman menarik bagi hidup saya.

Lulusan perguruan tinggi ini ternyata banyak sekali, bukan saya dan anda saja. Bukan lulusan Unair saja. Saya pinter masih ada yang lebih pinter. Unair terkenal di Jawa Timur, masih ada yang lebih top lagi. Jadi kalau cari kerja susah, itu sudah nggak jadi rahasia lagi. Meski embel-embel “Sarjana” itu kado istimewa di hati saya, dan bagi keluarga besar saya. Saya syukuri dalam-dalam ini. [ * ]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.