Header Ads

Tiga Tingkat Level Sufi Di Hari Raya





x



Tiga level sufi yang tahan hatinya teraniaya saat Hari Raya tiba...

Level 3

"Sudah semester berapa Mas ?"

Ada ketukan "tik-tak-tik-tok" di samping kiri, kanan telinga, di atas kepala, dan di dalam hati.

Mata mulai berputar, menenangkan ekspresi. Mulut mulai berproses.

Di hati bilang "Semester 8, Eh.. 9 ding. Eh... 10, Eh... "

Ya udah deh. "Semester akhir, Buk."

"Hampir selesai dong. Wisuda kapan mas ?"

Masak harus bawa-bawa Insyaallah. Kalau batal gimana.

Ya udah deh lagi-lah. "Pokoknya tahun ini Buk, tinggal sidang akhir kog". Tiitttt.... walau nggak pernah disentuh.

"Slamet-slamet" pikiran dalam hati.

Bu De ku sudah nampak puas tahun ini. Tapi kalo lebaran depan belum lulus juga. Kayaknya aku nggak mau kunjungan ke rumah Bu De aja deh. Bisa berabe nanti.       
               
Level 2

Ini kasusnya di rumah Pak Lek. Nggak Bu De. Tapi Pak Lek ku, orang kaya, suka ngejek, dan sok keren.

"Wis wisuda to, Le ?"

"Sampun, Pak Lek."

"Piye, mergawe ndek ndi saiki. Dadi Guru a ?"

Hayo...gimana jawabnya. Kalau kamu di posisi saya. Sudah lebih tiga bulan pasca wisuda belum dapet kerja. Di kenal sebagai sarjana, tapi tukang makanin ayam sama sapi di rumah. Belum jelas masa depannya.

"Dereng, Pak Lek."

Pak Lek syok, kan mendengar jawaban itu. Wajahku ganti memerah deh. Hatiku dag-dig-dug. Isin jan.

"Jare, Sarjana, kog urung mergawe i piye Le." masih ditambahi "Mbiyen lak alom dadi Polisi ae, sawah kulon di dol, tak lebokno iso. Lha kog kuliyah larang-larang, ya jebule angel golek gaweyan."

Kumat deh Pak Lek. Umpama saya bukan seorang sufi, mungkin saya sudah nggak betah deh. Tapi saya tahan kog. Saya kuatin, walau dalam hati nyesel "Nyesek tenan to. Sesuai prediksi to."                        

Level 1

Jadi di halal bi halal, reunian alumni SMA, saya dan para sahabat dekat, biasanya seneng guyonan, saling nggasaki. Tapi kalau yang ini serius banget guyonannya. Bukan sih. Tapi percakapannya.

Setingnya, melingkar, ada aku di tengah, Dodi dan calonnya. Ferdi dan istrinya. Wulan dan anak laki-lakinya. Aku sendirian, dan tak ada gandengannya.

"Truk aja gandengan, masak kamu masih sendirian", hadist riwayat Mbah Google, dari sanadnya langsung sampai Mukidi.

Ferdi mengawali pembicaraan. "Wul gimana dulu saat ngandung" sambil ngelus perut sang istri. Katanya sudah masuk bulan tiga.

Aku diem, sementara mereka asyik bicara urusan rumah tangga. Tapi diemnya para sufi adalah keteraniyayaan. Dan bakal kena tindas pada saatnya.

"Oh iya, bro. Gimana nie. Sudah ada ?"

Aku pura-pura sok gak tok cer, ngrespon pertanyaan Dodi. "Maksute"

"Ya, itulah. Kayak kita-kita."

Akupun kali ini harus paling cerdas. Jangan sampek mereka nyangkut umur. Jangan sampai mereka bilang nggak laku. Jangan sampai mereka bilang, "Saya carikan ta ?". Jangan sampek mereka bilang "Aku punya kenalan gini lho", sambil menjempolkan tangan lalu bilang "Tak kenalin ta". Jangan sampai bilang "Perlu sowan Kyai ta, kayak si Faruq". Jangan sampai bilang "Sing lanang bro", "Mosok rek, gak pengen nggendong anak. Anakku lucu, imut, kayak aku dulu lho.", "Iki arep ndang kiamat, kon kok ijeh pancet ae. Ngko kedisikan dunia gulung tikar gak nduwe bojo, rugi laan." Dan sebagainya, dan sebagainya, sehingga aku dikenal sebagai sufi paling detail dan cerdas.

Endingnya, aku jadi bahan gasakan.

"Iku lho liriken, adik kelas mbiyen."       
               
"Ayu kog. Apa tak kenalno adikku ae, sing lagi masuk kuliah."       
               
"Lumayan kan, awakmu dadi adik iparku. Iso tak jaluki rokok, nek duwikku tipis."
                      
Dan doa orang-orang teraniaya paling manjur, dan segera di kabulkan Allah. Saran saya, perbanyaklah kunjungan ke tempat-tempat yang berpotensi menganiaya dirimu. Agar doa-doamu segera terkabul.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.